Skip to main content

Ihdinash Shiroothol mustaqiim

BISMILLAAHIR-ROHMAANIR-ROHIIM.
ASSALAAMU 'ALAIKUM WAROHMATULLOOHI WABAROKAATUH.

إِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
IHDINASH-SHIROOTHOL-MUSTAQIIM = Bimbing (antar)lah kami (memasuki) jalan lebar dan luas. (QS AL-FATIHAH 1: 6)

Setelah mempersembahkan puja puji kepada Allah dan mengakui kekuasaan dan kepemilikan-Nya, ayat selanjutnya merupakan pernyataan hamba tentang ketulusan beribadah serta kebutuhannya kepada pertolongan Allah. Nah, dengan ayat ini, sang hamba mengajukan permohonan kepada Allah, yakni bimbing antar-lah kami memasuki jalan lebar dan luas.

Kata (إِهْدِنَا) IHDINAA terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf-huruf haa', daal, dan yaa'. Maknanya berkisar pada dua hal.

Pertama, Tampil ke depan memberi petunjuk dan kedua, menyampaikan dengan lemah lembut. Dari sini, lahir kata hadiah yang merupakan penyampaian sesuatu dengan lemah lembut guna menunjukkan simpati.

Allah menganugerahkan petunjuk. Petunjuk-Nya bermacam-macam sesuai dengan peranan yang diharapkan dari makhluk. Firman-Nya: (رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى) "Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada setiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk" (QS Thaahaa 20: 50). Dan di lain ayat disebutkan dalam Firman-Nya: (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأعْلَى الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى ) "Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tinggi, yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk" (QS al-A'laa 87: 1-3).

Allah Subhanahu Wa Ta'ala menuntun setiap makhluk kepada apa yang perlu dimilikinya dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Dia-lah yang memberi hidayah kepada anak ayam memakan benih ketika baru saja menetas, atau lebah untuk membuat sarangnya dalam bentuk segi enam karena bentuk tersebut lebih sesuai dengan bentuk badan dan kondisinya.

Petunjuk tingkat pertama (naluri) terbatas pada penciptaan dorongan untuk mencari hal-hal yang dibutuhkan. Naluri tidak mampu mencapai apa pun yang berada di luar tubuh pemilik naluri itu. Nah, pada saat datang kebutuhannya untuk mencapai sesuatu yang berada di luar dirinya, sekali lagi manusia membutuhkan petunjuk dan kali ini Allah menganugerahkan petunjuk-Nya berupa pancaindra.

Namun, betapapun tajam dan pekanya kemampuan indra manusia, sering kali yang diperolehnya tidak menggambarkan hakikat yang sebenarnya. Betapapun tajamnya mata seseorang, ia akan melihat tongkat yang lurus menjadi bengkok di dalam air.

Yang meluruskan kesalahan pancaindra adalah petunjuk Allah yang ketiga yakni akal. Akal yang mengkoordinasikan semua informasi yang diperoleh indra kemudian membuat kesimpulan-kesimpulan yang sedikit atau banyak dapat berbeda dengan hasil informasi indra. Tetapi, walau petunjuk akal sangat penting dan berharga, ternyata ia hanya berfungsi dalam batas-batas tertentu dan tidak mampu menuntun manusia keluar jangkauan alam fisika. Bidang operasinya adalah bidang alam nyata dan dalam bidang ini pun tidak jarang manusia teperdaya oleh kesimpulan-kesimpulan akal sehingga akal tidak merupakan jaminan menyangkut seluruh kebenaran yang didambakan. "Logika adalah satu ilmu yang dirumuskan oleh Aristoteles yang bertujuan memelihara seseorang agar tidak terjerumus ke dalam kesalahan. Namun ternyata ilmu itu tidak mampu memelihara perumusnya—apalagi orang lain—dari kesalahan-kesalahan." Demikian tulis Syaikh Abdul Halim Mahmud, mantan guru besar dan pemimpin tertinggi al-Azhar. Akal dapat diibaratkan sebagai pelampung; ia dapat menyelamatkan seseorang yang tidak pandai berenang dari kehanyutan di kolam renang atau bahkan di tengah laut yang tenang. Tetapi, jika ombak dan gelombang telah membahana atau datang bertubi-tubi setinggi gunung, ketika itu yang pandai dan yang tidak pandai berenang keadaannya akan sama. Ketika itu, mereka semua tidak hanya membutuhkan pelampung, tetapi juga sesuatu yang melebihi pelampung. Karena itu, manusia memerlukan petunjuk yang melebihi petunjuk akal, sekaligus meluruskan kekeliruannya dalam bidang-bidang tertentu. Petunjuk atau hidayah yang dimaksud adalah hidayah agama.

Sumber: Tafsir al-Mishbah Vol. 1 Hal 74-76.
Semoga bermanfaat buat kita semua, terutama kepada al-faqiir sipembuat status.
اللهم ارزقنا الإخلاص في طلب العلم وفي نشره وفي جميع الطاعات برحمتك يا ارحم الراحمين , وصل الله على سيد نا محمد وعلى آله وصحبه و بارك وسلم اجمعين والحمد لله رب العالمين , والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Comments

Populer

Qadha & Qadhar by Arief Al Yusuf

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Seringkali kita lupa bahwa hidup ini bukan hanya tentang memperoleh sesuatu dari dunia, tetapi juga memberikan sesuatu pada dunia. Islam mengenal konsep Qadha dan Qadar yaitu adanya ketetapan2 yang telah diatur oleh Allah SWT. Dalam bahasa mudah dapat kita katakan bahwa di dunia ini ada hal-hal tertentu yang diluar jangkauan kemampuan kita. Untuk mengatasi masalah tersebut dikenallah konsep tawakal dalam Islam. Tawakal artinya berserah diri terhadap Allah SWT. Sehingga setiap ketetapan yang ada harus kita terima dengan lapang hati karena kita telah menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT. Sekilas konsep ini mirip dengan konsep Nrimo ing Pandum. Konsep Tawakal atw Nrimo ing Pandum juga seringkali dianggap berlawanan dengan konsep berusaha atau bekerja keras. Padahal jika kita mau mencermati, kedua konsep ini hanya menjelaskan tentang satu hubungan, yaitu bagaimana kt menerima stimulan dari luar. rasa senang timbul akibat terpenuhin...

Barisan Mukmin atau Barisan Munafik

SELEKSI dari Alloh pasti terjadi dan pada akhirnya manusia terbagi menjadi dua barisan; barisan orang-orang beriman dan barisan orang-orang munafik. Alloh berfirman: “Alloh sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini (campur aduk mukmin dengan munafik), sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Alloh sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Alloh memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasulNya. Karena itu berimanlah kepada Alloh dan rasul-rasulNya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar,”  (QS Ali ‘Imran 3:179) Kita tidak akan pernah tahu isi hati manusia, akan tetapi pasti Alloh ungkap pada saatnya sehingga setiap orang munafik pasti keluar dari barisan orang-orang beriman dan setiap orang beriman pasti keluar dari barisan orang-orang munafik. Sehingga barisan orang-orang beriman hanya berisi orang-or...